Senin, 09 Januari 2012

harganya proses

Kemarin siang baru diajak seseorang berjalan-jalan ke sebuah pasar.


Pasar pengalaman. Letaknya ada diujung pikiran, kesananya kita berjalan kaki menggunakan ucapan kita. Alat transportasi menuju kesana yang kita gunakan kali itu adalah perbincangan.

Kami berjalan-jalan, banyak yang dijual di pasar pengalaman, macam-macam, ada botol bening yang berisi airmata, ada air ludah juga (maaf), ada cinta, ada ketawa, ada murung, dan tak lupa pasti juga ada galau, ada syukur, ada kecewa, ada mimpi, ada darah, ada kanker, ada kelahiran, ada kematian, ada keberhasilan, umm, tapi yang terakhir kusebut, harganya mahal nian, bahkan penjualnya pun belum bisa menentukan rupiah atau dolarnya untuk membeli keberhasilan.

Penjualnya hanya bilang : di toko yang paling ujung, sebelah toko roti kesehatan,
 ada toko yang jarang sekali mau dikunjungi orang, coba saja datang, rata-rata orang yang sering datang kesana, dan gigih berulang kali, dia akhirnya dapat kesini dan memasukkan koin ke dalam mesin kasirku lalu dapat membawa pulang keberhasilan, dengan Cuma-Cuma.

“Mental Cuma-Cuma” ku tergelitik, Cuma-Cuma, hmmm.

Maka tanpa pikir panjang, kita pergi kesana.

Toko itu tidak begitu usang, namun dapat ditebaklah itu sudah cukup tua untuk ukuran pasar pengalaman. Didalamnya hanya barang berserakan yang nampak tidak layak jual.

Ada yang bisa kubantu.

Ada suara muncul dari balik tumpukan kertas menggunung.

Penjual di toko keberhasilan tadi menyarankan kami pergi kesini, jika mau dapat keberhasilan di tokonya dengan Cuma-Cuma, apakah disini dijual koinnya.

Cuma-Cuma?

Kami diam. Tepatnya aku yang bengong.

Pergi saja kalau begitu, kalian buang-buang waktu saja pergi ke toko ini.

Tapi...

Aku menjual proses.

Orang dibalik tumpukan kertas itu dingin, menjawab sekenanya. Sangat tidak ramah dan tidak bersahabat. Kalau nggak ingat omongan penjual di toko keberhasilan tadi, aku sudah pengin pulang saja.

Eit tunggu dulu, kita lihat apa yang bisa kita dapat dari toko ini. Cegah teman yang mengajakku itu.

Baiklah, aku mengalah dan diam saja di toko yang terlihat berantakan ini.

Kami bisa membelinya disini? Berapa mahal harganya?. Tanya temanku sabar.

Aku tidak tau. Suara itu sombong sekali. Mengesalkan.

Kamu datang untuk meminta keberhasilan di toko itu dengan Cuma-Cuma, padahal ribuan orang berdarah-darah untuk itu. Kira-kira kamu sendiri merasa Pantas?. Suara itu mulai seperti petuah dari dalam gua, marah menyeramkan.

Tapi hari ini aku belajar bagaimana menawar sebuah proses, memberi harga untuk sebuah proses. Temanku itu yang mengajari

Boleh kami tukar itu dengan ini?. Tiba-tiba dengan teduhnya, temanku itu mengeluarkan sebuah bungkusan kain coklat dari balik saku jas kumalnya.

Agak heran dia punya bungkusan seusang itu. Bahkan untuk menebak isinya pun aku nggak punya perbendaharaan dugaan yang mungkin.

Suara dari balik tumpukan kertas tidak menyahut.

Akhirnya aku yang tidak sabar untuk mengetahui apa isi karung buluk nya itu. Memang apa isinya?.

Dia tidak peduli pertanyaanku. Dia hanya maju menuju balik tumpukan kertas dan membuka kantong buluknya disana, dari jauh aku Cuma kebagian melihat cahaya yang berpendar dari benda mungil yang dibawanya itu.

Suara dibalik tumpukan kertas hanya menunjukan hmmm....

Besok datang lagi kesini anak muda.... suara itu berpesan pada temanku.

Dia berbalik dan tersenyum padaku, seperti bilang : menang!

Aku masih penasaran dan akhirnya bertanya lagi. Memang apa isi karung kecilmu itu?.

Dia tersenyum dan mengangkat dua bahunya, lantas sekali lagi menoleh kearah balik tumpukan kertas dimana karungnya ditinggalkan.

Sementara dia melenggang keluar, aku bergegas menuju balik tumpukan kertas, dan demi apa yang kulihat dan masih berpendar cahaya nya itu, aku takjub, tidak mampu mengeluarkan satu kalimat terpesona sekalipun.

Aku mengenal benda itu.

Pelan-pelan kutinggalkan toko tua di ujung jalan, melewati toko roti kesehatan dan melirik ke arahnya sekilas, -berharap toko itu punya penawar rasa manis atau kapur ajaib-. Kukejar temanku, dan kumaki-maki dia sebisanya untuk selanjutnya kupuji....

Setelah perjalanan hari itu, aku diam.... itu benar2 pasar pengalaman. Diajarinya aku menawar sebuah proses dan memberi harga yang layak untuknya, benda itu.

Kali ini biar kuberitau kalian, benda yang berpendar cahayanya itu, dialah mutiara rasa, aku pernah melihatnya dulu melalui gambar yang diceritakan nenekku, mutiara itu adalah menyatunya air keikhlasan dengan molekul-molekul kesabaran, dia mendekam sekian lamanya dalam kerang kerja keras, yang tersimpan pada dasar lautan doa.

Aku bertrimakasih untuk pelajaran menawarnya. Dan pada Allah, aku bertrimakasih diberi kesempatan menempuh perjalanan perbincangan dengannya. Mengagumkan.





11 komentar:

  1. hasil ngobrol sama adiknya mas anom,
    dia bilang "bagaimana mas anom membesarkan hati kita-kita" #balikmujiiii

    BalasHapus
  2. laras : hemmmm, iya, adik yang mana? haha

    BalasHapus
  3. yang jelas bukan aku.....
    tanyakan saja ke orang nya, yang punya jargon, hargailah proses!

    BalasHapus
  4. enggak makrifat sama adeknya ki,
    percakapannya nggak kayak gitu, itu pendramatisiran aja,
    biar keren
    versi aslinya, belum jadi

    BalasHapus