Selasa, 03 Mei 2011

Andhe pun memilih , Kamu?

simak cerita sebelumnya dihttp://www.facebook.com/note.php?created&¬e_id=10150168505351456.

..............
Andhe memilih Klenthing Kuning yang nadyan ala tapi menika kang putra purun, itulah yang diinginkan si Pangeran Andhe, seseorang yang tidak mau disebrangkan yuyu kangkang, seseorang yang menjaga dirinya sendiri, seseorang yang enggak mau dirinya disentuh oranglain-ehm,bukan mahrom maksudnya-.

Lebih dari sekedar disentuh-menyentuh, Klenthing Kuning, Andhe-Andhe Lumut dan laki-perempuan pada umumnya, seenggaknya, mmm, harusnya ding, menjaga pergaulan antaranya, enggak bersentuhan sebagai salah satu contoh kecil dari paugeran ageng menjaga pergaulan. Islam telah mengaturnya (woiiiiiiiii, udah ada kaleeee), rasanya budaya juga mengaturnya, bahkan ditanamkan sejak dini melalui tembang dolanan seperti itu (yang saya kenal sejak lama).

Islam punya aturannya, Jawa (sebagai Budaya) punya pembiasaanya sejak dini.

Jadi, kenapa masih saja meletakan Islam sebagai box yang jauh dari budaya -sekaligus dicurigai- ? Kenapa masih memandang Islam sebagai utara jika memang budaya itu selatan?
(yang terakhir ini meragukan)

menuju bubat

babak III

Seharusnya, dengan kondisi minimalis kafilah sunda di Bubat, pernikahan itu bisa saja langsung dilaksanakan, tapi Gajahmada punya kehendak lain, serahkan dulu Sunda baru ada pernikahan….
Tidak ada pernikahan tanpa penyerahan Sunda terlebih dahulu
(posisinya kemudian : Sunda bukan bergabung karena pernikahan, tapi menyerahkan diri )
Linggabhuana ayahanda Citraresmi menolak, Gajahmada murka dan menyerang pasukan keletihan di Bubat dengan sepasukan majapahit yang terkenal tangguh tersebut.
Linggabhuana tewas. Gugur dalam perang.
Istrinya, bunuh diri
Dan putrinya, melakukan hal yang sama….

Hayamwuruk, memang benar cinta terhadap dyah pitaloka citraresmi tersebut, kematian perempuan cantik tersebut membuat hatinya bersedih, apalagi setelah tau bahwa perang Bubat terjadi atas itikad kuat sang patih dengan palapanya.
Sedikit marahnya Hayam Wuruk membikin GajahMada agak mencelos sedikit ketenangannya, sampai akhirnya ia dikabarkan moksa.
Hayamwuruk memang raja, tapi ia adalah satu tim dengan GajahMada, tanpa GajahMada apalah jadinya hayamwuruk….
Ini yang membuat kondisi majapahit juga tidak sebaik sebelumnya.
Kalau saja Hayam Wuruk mampu menahan pandangannya – namanya gadhul bashar-, mungkin wajah pitaloka tidak sempat membayang…
Kecil, karena cerobohnya mata hayamwuruk menjalar ke keinginan menikahi putri Sunda tersebut yang tidak sejalan dengan sumpah sang patih, rekan satu tim nya. Andai saja sejak awal, mereka- gajahmada dan hayamwuruk- menjadi satu tim yang saling mengenal hati juga, lebih dalam terhadap keinginan menepati palapa dan keinginan mempersunting pitaloka.

masih Hayam Wuruk -menuju Bubat-

lanjutannya
............
Majapahit memberikan opsi,
Serahin putrimu, sekalian menggenapkan sumpah palapa gajah mada
Atau nggak nyerahin, tapi diserang dan tentu saja palapa tetep genap.
Dengan pilu, linggabuana setuju, demi rakyat, lhah daripada diserang.
Pitaloka, selayaknya remaja-remaja yang cintanya sok tumbuh semena-mena, mendadak dan labil, enggak mau tetepan dinikahi sang raja, tapi
“Demi rakyat nduk!”
Jadi putri nggak selamanya enak, harus tanggungjawab juga sama keselamatan rakyat.
Pitaloka setuju.

Khitbahan Hayamwuruk datang tanpa melalui proses taaruf, rasanya lukisan Saniskara cukuplah menggambarkan pesona ayunya Dyah Pitaloka Citraresmi.

Seluruh Sunda diboyong melalui jalan laut menuju Majapahit, Sunda sepi, jauh
sebelum bandung lautan api.

Rakyat sunda, entah bagaimana perasaanya, karena sunda kerajaan kecil, sudah putrinya diminta, disuruh mengantarkan pula, sistem yang aneh, mana-mana pula yang ada adalah laki-laki yang datang pada wanita, dibiarkanlah jatuhcinta hayamwuruk membikin dyahpitaloka keraya-raya dalam mabuk laut yang ngenas, demi menyerahkan diri, dimana akhlak Hayamwuruk itu? Hehe (peace)
(Itukah pula yang menjadi dasar banyak perempuan keraya-raya? Biarlah toh, Kartini tetap mempunyai andil besar untuk perempuan sekarang ini -nggak nyambung-)

Mendarat ditanah Majapahit, seluruh pasukan Sunda mendirikan camp, seperti tenda-tenda yang didirikan kafilah Husain di Karbala, karena dicamp itu pulalah mereka semua gugur, Bubat bak Sahara Nainawa.

GajahMada, berapa jempol berhasil kupinjam untuk mengacungi dan memberikan pernyataan bahwa sumpahnya luarbiasa, maka jiwa palapa itu tergiur dengan keadaan sundanese di Bubat, Keadaan yang luarbiasa terik, kehabisan bekal, panas, walau tidak separah kafilah Hasan, kafilah sunda masih beruntung punya sumber air, mereka hanya berencana awal mengantarkan putri mahkota yang kini telah menjadi raja, karena sepanjang perjalanan, Linggabuana ikhlas lengser keprabon, menyerahkan mahkotanya kepada putri semata wayangnya, agar hati rakyat lebih berterima.
Agar terkesan dimata rakyatnya adalah pernikahan raja dan ratu, padahal keinginan terbesar gajahmada sebagai patih pemegang janji palapa tersebut adalah penyerahan dengan sukarela sunda kepada majapahit.

akibat tidak bisanya hayamwuruk itu bergadhulbashar -

13 April 2010 jam 10:29
Dahulu-dahulu kala ada seorang pelukis, seperti halnya keenan dalam perahukertasnya dewi dee yang hampir selalu melukis karena satu inspirasi kecil dari buku jendral pilik, Saniskara juga gitu, tapi inspirasi mahakaryanya adalah Dyah Pitaloka Citraresmi, kekasihnya.
Digambarlah dengan sukacinta, wajah sang kekasih. Selesailah, entah bagaimana kejadiannya, lukisan Saniskara –yang konon sepertinya seorang abdi- itu diliat sama Hayam Wuruk, mana bisa nggak jatuh cinta Raja Ha-we itu, gambar itu dibuat dengan cinta yang berbunga-bunga, pastilah hasilnnya juga berbunga-bunga.
Enggak puas Cuma lukisannya, adatnya penguasa yang aneh, harus dapet pitalokanya, padahal pitaloka pacarnya Saniskara.
Dirembuglah kepinginan supaya pitaloka cumondhok di Majapahit, seantero majapahit sepatu, tapi Pitaloka jelas enggak,
“apa-apa’an?!”

Linggabuana, sang ayah dari pitaloka pun sakjane wegah memberikan putranya, ning yang minta itu raja yang posisinya hampir menguasai nuswantara e, nulak pun gak bisa apa-apa.
Dilanda dilemma besar, Linggabuana, ayahanda Pitaloka. sementara Gajahmada yang bertekad baja terus merangsek sunda agar mau menjadi bagian nusantara, jadi teringat pemaksaanya Yazid agar Husain bin Ali mau membaiatnya, (samakah posisinya?), tidak seperti cucunda nabi tersebut, Maharaja Linggabhuana hanya merasa kecil dibanding nusantara yang besar, sementara gejolak jatuh cinta HayamWuruk tak bisa terbendung, akibat dari gagalnya hayam Wuruk bergadhulbashar hingga wajah Pitaloka membayang terus.

bersambung........

Kamis, 28 April 2011

angin ribut dan alien: pensil itu.

angin ribut dan alien: pensil itu.

pensil itu.

Bertemu bintang lagi,, nggak tau ini pertemuan yang keberapa, tapi aku ngrasa sudah lama melupakan bintang, teman ngorbolku, satu-satunya mungkin.Dia membalas sapaku enggan, dia kemudian menceritakan lagi apa yang telah dibrifiengkan sore tadi.

Ini tentang…….
Anak perempuan yang dalam duskripnya hanya punya pensil dengan motif yang rata-rata hampir sama, kenapa dia tidak punya penghapus?kenapa dia tidak punya bolpoin?. Bolpoin lama-kelamaan ia lupakan karena menggambar diharuskan memakai pensil (entah siapa yang mengharuskan, tapi itulah awal). Apa yang terus-terusan bersamanya, kemudian itulah yang Ia sukai, terlebih dia berpikir pensil lebih lembut bersentuhan dengan kertasnya. Apa yang selama ini terus-terusan bersamanya, dia pikir itulah miliknya.
Dia selalu menggambar, menulis, banyak hal, ketika goresanya salah, dia hanya akan membenarkan dengan goresan lain, dia perindah dengan pensilnya, masih dengan pensilnya.

Jadi, dia tidak pernah menghapus gambarnya?

Buat apa dihapus? Itu yang sudah digambarnya.

Tapi, jika itu salah.

Dan dia memperbaikinya dengan goresannya lagi. Atau dia bisa menambahkan tulisan kalau memang gambarnya jadi tidak jelas, untuk menerangkan. Yang punya penghapus itu Tuhan.

Dia pikir semua yang telah digoresnya itu ya sudah tergores, jika goresan itu salah ya dia perbaiki dengan goresan lain, untuk membuat itu lebih baik, mungkin dia memang tidak bisa lupa dengan apa yang dinamakan kemarin dan dahulu, itu memori, itu sudah terjadi, kita tidak mungkin kembali ke halaman sebelumnya, karena sedetik yang lalu pun tidakkan ada keduakalinya .

Lalu, kenapa hanya Tuhan yang punya penghapus.

Kertas yang dilukai dengan goresan yang salah, atau orang yang melihat membaca goresan yang salah, mungkinkah punya kuasa menghapus goresan itu? Mungkinkah meski itu goresan yang terjadi sedetik lalu. Mungkinkah kita kembali kepada sejam yang lalu dan membuat seseorang tidak perlu lahir?dan membuat sebuah kesalahan tidak perlu ada?

Lalu, kita menyadari itu salah…..

Iya, lalu penggores menyadari itu salah, dia gores lagi garis, titik, arsiran untuk memperbaikinya,

Iya, seorang pernah berkata, ada niatan, janji dan tindakan untuk perbaikan, lalu kertas yang tergores pasti akan memaafkan

Tepat

Tapi goresan itu masih tetap ada, terasa(aku menyahuti bagian ini dengan cepat, secepat kilat menyambar)

Iya, seperti noda kopi yang kamu ceritakan dulu.

-Aku tersenyum sedikit, getir mungkin.- itukah sebabnya anak perempuan itu punya puluhan pensil?

Bintang diam. Cukup lama.

Boleh aku berkenalan dengan anak perempuan itu?

Bintang diam.

Dia dimana? Dibelahan bumi yang mana?

Bintang diam.

Dia kehilangan semua pensilnya.


Sudah hampir fajar. Bintang malam yang paling terang itu makin lama menyurut, Di timur kejora mulai bersinar, seterang bintang malam dilangit utara yang mulai pulang.

Kejora, kenapa dia kehilangan semua pensilnya? apakah dia kehilangan sesuatu yang terus-terusan bersamanya?

Bahkan membuka duskripnya saja dia tidak mampu, sekarang.

Dia kenapa?

Aku tidak tau.

Jumat, 08 April 2011