KAMU BAHAGIA. BAGAIMANA BISA AKU TIDAK
Ah! Aku ngerti, aku ngerti.
Namanya perasaanku di hari itu.
Namanya ketidaknyamanan yang datang di hari itu. Namanya hati yang dikosongkan sesisi.
Namanya tulang-tulang kaki yang kaya dilolosi.
Namanya kehilangan
Iya, kehilangan kamu.
Hari itu kamu kubantu dandan cantik sekali.
Kamu senyum, bagaimana bisa aku tidak.
Kamu bahagia,seneng banget hari itu, bagaimana bisa aku tidak.
Senin, 12 Desember 2011
Jumat, 09 Desember 2011
hanya cinta yang bisa
hanya cinta yang bisa menaklukkan dendam
hanya kasih sayang tulus yang mampu menyentuh
hanya cinta yang bisa mendamaikan benci
hanya kasih sayang tulus yang mampu menembus ruang dan waktu
keterangannya nanti yaaaa
hanya kasih sayang tulus yang mampu menyentuh
hanya cinta yang bisa mendamaikan benci
hanya kasih sayang tulus yang mampu menembus ruang dan waktu
keterangannya nanti yaaaa
Kamis, 08 Desember 2011
niat
mau ngentri baru ah.....
kesurupan arwah blog
mulai sekarang, sambil bersihin debu-debu di blog
kamu akan lebih 'berisi'...
paska jalsah ruhiy, saya:alien, akan menulis lagi....
kesurupan arwah blog
mulai sekarang, sambil bersihin debu-debu di blog
kamu akan lebih 'berisi'...
paska jalsah ruhiy, saya:alien, akan menulis lagi....
Rabu, 30 November 2011
Kamis, 24 November 2011
kita akan bersama untuk waktu yang lama
Kita akan bersama untuk waktu yang lama
:Mewujudkan mimpi bersama
(part 2)
Kita sudah bersama dalam waktu yang lama.
Dalam waktu yang kadang kutolak untuk dikatakan sebentar, sebab bagaimanapun akhirnya mengenal betul udaranya langitmu itu, bulan-bulanan ini sungguh berharga.
Tetapi kadang kutolak juga untuk ‘mereka’ katakan : kalian sudah lama bersama.
Sebab bagaimanapun hati memiliki pernyataan ‘kesenangan-kesenangan kita dalam air mata marah dan tawa itu belum ingin, bahkan tidak pernah ingin berhenti’. Seperti anak kecil yang merasa baru saja bermain tetapi sang ibu memanggil, jawabnya ; ibuuuuu, kan mainnya baru bentar, masa udahan siiiiii.
Kita sudah pernah bersama dalam waktu yang lama.
‘Sudah pernah’ itu seperti kuali besar yang menggodhok hati. Kita sudah bersama dalam waktu yang lama.
Dan kita sampai pada hari ini, hari ini yang barangkali bisa terjadi kapan saja.
Dimana ingatan tentang kalian muncul menguat.
Sementara rasa yang menguat itu mengikat keras-keras keinginan untuk selalu seperti apa yang diingat.
Rasa yang menguat itu kemudian, jika beruntung dia tersebar ke udara, sehingga bukan hanya aku, kamu, kamu, kamu pun dapat melihat betapa pekat keinginan itu.
Tetapi kadang malang tak dapat ditolaknya perasaan itu Cuma mampu menampakkan diri dalam wujud kegelisahan. Kita sudah bersama dalam waktu yang lama.
Yang tidak terbeli mata uang manapun.
Yang tidak tertukar kekayaan manapun. Siapa yang mampu membeli hati seorang manusia untuk hadir rela-rela dalam hujan deras –mengalahkan jarak-, muncul rela-rela di shubuh yang belum genap –dengan dinginnya-.
Mampu cemas pada orang-orang yang tidak dikenalnya ketika dia dilahirkan dibumi ini. Mampu hadir dalam hitungan 1,2,3 saja.
Mampu tegak di sisa tenaganya hanya untuk menciptakan seulas senyum saja. Mampu mendengar ditengah luka yang dalam untuk sebuah ketenangan saja.
Membagi apa yang dipunyanya, sesedikit apapun. Mampu terjaga semalaman untuk menemani orang lain dalam masa-masanya yang sulit.
Tidak ada kekayaan yang mempu menukar waktu-waktu dimana sebuah jiwa tumbuh dan mekar, menyaksikannya, berada disekitarnya, membantunya.
Tidak ada harta didunia ini yang bisa memberikan waktu tambahan penggantii detik-detik yang direlakan hanya untuk ngobrol, yang bisa membuat sebuah hati membagi kisahnya, rela-rela. Kita sudah bersama dalam waktu yang lama.
Telah mencocokkan jiwa.
Hari ini, sekarang ini sampai juga.
Dimana ingatan ini masih bertahan tentang kalian. Dimana kalian masih bertahan dengan ini, dan aku.
Hari ini, pasti datang juga.
Dimana aku yang bertahan, dimana kamu yang bertahan, dan kamu, dan kamu, dan kamu yang bertahan itu, berada dalam ketetapan hati yang sama. Kita sudah bersama dalam waktu yang lama.
Tanpa atau dengan kata telah kita bicarakan mimpi kita.
Dan dengan atau tanpa sadar kita sedang menjalaninya.
Banyak mimpi kita.
Pada akhirnya, kita akan (kah) terus bersama dalam waktu yang lama
: mewujudkan mimpi bersama secara bersama-sama (itu?).
Kita sudah bersama dalam waktu yang lama.
Dalam waktu yang kadang kutolak untuk dikatakan sebentar, sebab bagaimanapun akhirnya mengenal betul udaranya langitmu itu, bulan-bulanan ini sungguh berharga.
Tetapi kadang kutolak juga untuk ‘mereka’ katakan : kalian sudah lama bersama.
Sebab bagaimanapun hati memiliki pernyataan ‘kesenangan-kesenangan kita dalam air mata marah dan tawa itu belum ingin, bahkan tidak pernah ingin berhenti’. Seperti anak kecil yang merasa baru saja bermain tetapi sang ibu memanggil, jawabnya ; ibuuuuu, kan mainnya baru bentar, masa udahan siiiiii.
Kita sudah pernah bersama dalam waktu yang lama.
‘Sudah pernah’ itu seperti kuali besar yang menggodhok hati. Kita sudah bersama dalam waktu yang lama.
Dan kita sampai pada hari ini, hari ini yang barangkali bisa terjadi kapan saja.
Dimana ingatan tentang kalian muncul menguat.
Sementara rasa yang menguat itu mengikat keras-keras keinginan untuk selalu seperti apa yang diingat.
Rasa yang menguat itu kemudian, jika beruntung dia tersebar ke udara, sehingga bukan hanya aku, kamu, kamu, kamu pun dapat melihat betapa pekat keinginan itu.
Tetapi kadang malang tak dapat ditolaknya perasaan itu Cuma mampu menampakkan diri dalam wujud kegelisahan. Kita sudah bersama dalam waktu yang lama.
Yang tidak terbeli mata uang manapun.
Yang tidak tertukar kekayaan manapun. Siapa yang mampu membeli hati seorang manusia untuk hadir rela-rela dalam hujan deras –mengalahkan jarak-, muncul rela-rela di shubuh yang belum genap –dengan dinginnya-.
Mampu cemas pada orang-orang yang tidak dikenalnya ketika dia dilahirkan dibumi ini. Mampu hadir dalam hitungan 1,2,3 saja.
Mampu tegak di sisa tenaganya hanya untuk menciptakan seulas senyum saja. Mampu mendengar ditengah luka yang dalam untuk sebuah ketenangan saja.
Membagi apa yang dipunyanya, sesedikit apapun. Mampu terjaga semalaman untuk menemani orang lain dalam masa-masanya yang sulit.
Tidak ada kekayaan yang mempu menukar waktu-waktu dimana sebuah jiwa tumbuh dan mekar, menyaksikannya, berada disekitarnya, membantunya.
Tidak ada harta didunia ini yang bisa memberikan waktu tambahan penggantii detik-detik yang direlakan hanya untuk ngobrol, yang bisa membuat sebuah hati membagi kisahnya, rela-rela. Kita sudah bersama dalam waktu yang lama.
Telah mencocokkan jiwa.
Hari ini, sekarang ini sampai juga.
Dimana ingatan ini masih bertahan tentang kalian. Dimana kalian masih bertahan dengan ini, dan aku.
Hari ini, pasti datang juga.
Dimana aku yang bertahan, dimana kamu yang bertahan, dan kamu, dan kamu, dan kamu yang bertahan itu, berada dalam ketetapan hati yang sama. Kita sudah bersama dalam waktu yang lama.
Tanpa atau dengan kata telah kita bicarakan mimpi kita.
Dan dengan atau tanpa sadar kita sedang menjalaninya.
Banyak mimpi kita.
Pada akhirnya, kita akan (kah) terus bersama dalam waktu yang lama
: mewujudkan mimpi bersama secara bersama-sama (itu?).
Selasa, 25 Oktober 2011
Hey...look at your self! Kamu terbang tauk! 2
Kepinginku juga kamu jadi orang-orang yang bisa mensejajari lariku,
atau minimal berada dekat dibelakangku.
Tapi kamu nggak bisa. Dibilang suruh latian lari juga. Kamu nggak mau. Iya, kamu latian, tapi waktu latian kamu itu lama.
Kamu tau sendiri kan, orang-orang yang latian bareng kamu, sekarang dimana? Jaraknya jauh didepan kamu.
Tapi kamu? Ih, kamu pikir aku nggak kesal apa dengan jalanmu yang mirip siput itu?
Kesal!.
Sampai suatu saat aku balik lagi untuk nengok kamu,
dan kamu nggak ada di track larimu?
Cemasnya bukan main.
Tapi aku buru-buru balik kedepan, dan esoknya aku balik ketempat itu,
kamu sudah ada lagi. Ngilang datang kaya gitu, sesuka udel kamu.
Tapi yang waktu itu aku heran, kamu bersayap tauk!!! Kamu tau? Kamu bersayap!!!.
Sejak itu aku selalu mengawasimu dari bawah,
meskipun tetap kusuruh kamu belajar bisa berjalan dan berlari di tanah.
Tapi jangan pernah mau kerdil,
dengan kakimu yang ternyata sulit seakali diajar berlari,
look at your self, kamu terbang tauk!!!
Kamu, nada terakhir kamu membentakku, mbikin aku kaget dan tergelincir dari pohon.
Sekarang giliranku cemas, aku jatuh pasti, tapi, sesuatu dipunggungku mengepak,
aku bukannya terjun kebawah, tapi posisiku meninggi-meninggi lagi. Aku terbang??
Lihat aku terbang, kamu ternyata benar. Aku girang bukan main.
(Akhirnya kakiku yang tidak kunjung bisa berlari cepat serta pertanyaanku kepada Tuhan, dijawab sudah.
Aku berterimakasih pada Tuhan, karena memberimu waktu untuk datang ke mimpiku dan menjelaskan ini.
Aku terbang. Ya, aku senang)
Tapi kamu nggak bisa. Dibilang suruh latian lari juga. Kamu nggak mau. Iya, kamu latian, tapi waktu latian kamu itu lama.
Kamu tau sendiri kan, orang-orang yang latian bareng kamu, sekarang dimana? Jaraknya jauh didepan kamu.
Tapi kamu? Ih, kamu pikir aku nggak kesal apa dengan jalanmu yang mirip siput itu?
Kesal!.
Sampai suatu saat aku balik lagi untuk nengok kamu,
dan kamu nggak ada di track larimu?
Cemasnya bukan main.
Tapi aku buru-buru balik kedepan, dan esoknya aku balik ketempat itu,
kamu sudah ada lagi. Ngilang datang kaya gitu, sesuka udel kamu.
Tapi yang waktu itu aku heran, kamu bersayap tauk!!! Kamu tau? Kamu bersayap!!!.
Sejak itu aku selalu mengawasimu dari bawah,
meskipun tetap kusuruh kamu belajar bisa berjalan dan berlari di tanah.
Tapi jangan pernah mau kerdil,
dengan kakimu yang ternyata sulit seakali diajar berlari,
look at your self, kamu terbang tauk!!!
Kamu, nada terakhir kamu membentakku, mbikin aku kaget dan tergelincir dari pohon.
Sekarang giliranku cemas, aku jatuh pasti, tapi, sesuatu dipunggungku mengepak,
aku bukannya terjun kebawah, tapi posisiku meninggi-meninggi lagi. Aku terbang??
Lihat aku terbang, kamu ternyata benar. Aku girang bukan main.
(Akhirnya kakiku yang tidak kunjung bisa berlari cepat serta pertanyaanku kepada Tuhan, dijawab sudah.
Aku berterimakasih pada Tuhan, karena memberimu waktu untuk datang ke mimpiku dan menjelaskan ini.
Aku terbang. Ya, aku senang)
Hey...look at your self! Kamu terbang tauk! 1
Suatu hari aku bermimpi disiang bolong. Kamu pasti menduga bahwa malasnya aku, tidur di siang hari.
Aku waktu itu bermimpi saat sedang sibuk menggambar-gambar dalam bukuku.
Dan tau mimpiku, aku bermimpi waktu itu kamu datang dan bercerita begini padaku;
Kamu, pekerjaanmu itu bisanya apa Cuma menggerutuiku? Kesal terhadapku?
Sangkaku, kamu sedang kesal pada orang lain atau kamu benar sedang marah padaku waktu itu. Ah, tapi yang kedua itu tidak mungkin. Dengar apa yang kamu ucapkan selanjutnya?
Aku bisa apa? Selain minta maaf sama kamu? Aku harus nungguin kamu? Itu kepinginmu? . Aku juga pengin berontak dan bertanya, kenapa Allah ciptakan aku bisa berlari cepat kaya gini.
Dulu, tapi sekarang aku ngerti betul beginilah diriku jadi apa yang sudah melekat padaku sejak lahir ini, harus terus kuasah agar tidak tumpul, dan kumanfaatkan sebaik mungkin.
Maaf, tapi dengan sekuat tenaga dan seusaha keras mungkin, aku selalu mengunjungimu kan? Aku jalan balik untuk melihat apa kamu terjatuh dibelakang? ?
Mulanya aku gak perduli untuk balik lagi ke belakang, tapi suatu hari aku iseng nengok kebelakang dan melihat pemandangan yang menarik. Entah yang mana, tapi kan kamu melarang kita semua ingat apapun alasanya kita bisa sampe ketemu.
Yang ada, kita saat ini, ketemu, dan senang, cukup itu-katamu-. Bodo amat kamu mau ceritakan aku sebagai orang yang jahat yang berlari begitu cepat sehingga kamu capek nyamain lariku.(eh.....aku pengin meralat : langkahmu saja aku sudah kewalahan).
Tapi dengan usaha keras aku harus sesekali sesering mungkin balik ke belakang. Menyenangkan iya bisa bertemu begini,
apalagi kalau pas balik begini, kamu lagi musim semi.
Kadang sakit juga kalau pas balik gini, muka kamu lagi musim petir.
Tapi itu belum seberapa, sakit banget, kalau pas balik gini kamu lagi pake betadine,
habis jatuh, dan aku nggak tau pas kamu jatuh itu.
Kamu, pekerjaanmu itu bisanya apa Cuma menggerutuiku? Kesal terhadapku?
Sangkaku, kamu sedang kesal pada orang lain atau kamu benar sedang marah padaku waktu itu. Ah, tapi yang kedua itu tidak mungkin. Dengar apa yang kamu ucapkan selanjutnya?
Aku bisa apa? Selain minta maaf sama kamu? Aku harus nungguin kamu? Itu kepinginmu? . Aku juga pengin berontak dan bertanya, kenapa Allah ciptakan aku bisa berlari cepat kaya gini.
Dulu, tapi sekarang aku ngerti betul beginilah diriku jadi apa yang sudah melekat padaku sejak lahir ini, harus terus kuasah agar tidak tumpul, dan kumanfaatkan sebaik mungkin.
Maaf, tapi dengan sekuat tenaga dan seusaha keras mungkin, aku selalu mengunjungimu kan? Aku jalan balik untuk melihat apa kamu terjatuh dibelakang? ?
Mulanya aku gak perduli untuk balik lagi ke belakang, tapi suatu hari aku iseng nengok kebelakang dan melihat pemandangan yang menarik. Entah yang mana, tapi kan kamu melarang kita semua ingat apapun alasanya kita bisa sampe ketemu.
Yang ada, kita saat ini, ketemu, dan senang, cukup itu-katamu-. Bodo amat kamu mau ceritakan aku sebagai orang yang jahat yang berlari begitu cepat sehingga kamu capek nyamain lariku.(eh.....aku pengin meralat : langkahmu saja aku sudah kewalahan).
Tapi dengan usaha keras aku harus sesekali sesering mungkin balik ke belakang. Menyenangkan iya bisa bertemu begini,
apalagi kalau pas balik begini, kamu lagi musim semi.
Kadang sakit juga kalau pas balik gini, muka kamu lagi musim petir.
Tapi itu belum seberapa, sakit banget, kalau pas balik gini kamu lagi pake betadine,
habis jatuh, dan aku nggak tau pas kamu jatuh itu.
Langganan:
Postingan (Atom)
